Kali ini, aku didera oleh malam bertabur bintang. Mereka merayu sambil berkata “ wajahmu “ menyentakku dalam sebuah pertentangan. Menjurus dalam sebuah pengabdian yang tulus.
Lalu, riuh angin menyapaku lagi “ wajahmu “. Aku tersadar, teringat perkataannya.
Lalu, apakah sekarang aku didunianya, yang harus mengikuti segala bisik rayunya.
Tak mungkin ini bisa terjadi, jika aku tak bersalah dan melupakannya.
Kuserahkan ini, hanya untuk yang membisikku pagi ini.
Malaikat-malaikat idolaku. Selalu setia temaniku tidurku. Membawa ketenangan mengarungi lautan.
Teater AiR Jambi, 2 April 2010